Gue menulis ini langsung setelah sholat Ied kelar, dirumah, dengan perasaan hati yang nyaman dan tenang. Bener, gue gak jadi dikurbanin.
Ngomong-ngomong tentang kurban dan Idul Adha, dan mumpung gue masih inget, gue ingin ngucapin :
SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA EAAAA
Oke.
Post kali ini gue pengen ngebahas tentang sapi dan kambing. Well, kenapa seperti itu? Gue berfikiran sapi dan kambing-kambing yang innocent itu aslinya gak mau disembelih. Mungkin kalau gue bisa berbahasa kambing dan sapi, gue akan mengetahui apa yang mereka pikirkan. Mungkin gue bisa meyakinkan mereka bahwa dengan pengorbanan mereka akan membantu orang banyak, sehingga mereka mati dengan ikhlas. Ketika disembelih, mereka tidak meronta-ronta. Semua senang, dan menjadi suatu pertunjukan keluarga yang mendidik dan menjadi standard pernyataan dari para dokter yang ingin nyuntik pasien: "Gak sakit kok.. Kaya digigit semut..".
Tapi, disamping itu, adalah hal yang jadi pemikiran gue ketika seharusnya gue mendengarkan ceramah di mesjid tadi.
1. Gimana Kalau Mereka Kabur
Pernah kan liat berita ada sapi yang kabur di jalan Sudirman yang waktu itu? Ini baru satu sapi, coba kalau lebih dari satu sapi yang kabur. Tadi pas informasi acara di mesjid, banyaknya sapi dan kambing yang akan disembelih itu ada sekitaran 200 atau berapa gitu. Dan gue ngebayangin apa yang terjadi jika sapi-sapi dan kambing-kambing itu kerja sama untuk melarikan diri dari penjagalan diri mereka itu. Kota wisata bakalan chaos! Sapi kambing dimana-mana, seruduk sana seeruduk sini. Kaya upacara di Spanyol yang dimana para banteng dilepas di satu alley, tapi ini cenderung tidak berbahaya. Mungkin problem utama adalah akan banyak kotoran sapi dan kambing yang akan bertaburan dimana-mana.
2. Family Issues
Sebagai makhluk hidup yang sebenarnya, pasti akan memiliki sanak saudara yang menunjang kehidupan mereka. Mungkin sama halnya dengan para sapi dan kambing itu. Kita tidak tau akan menyembelih siapa? Apakah sang bapak? Apakah sang anak atau ibunya? Apakah paman jauhnya? Yang kita tidak tau lagi apakah, keluarga mereka ini, rela atau engga ditinggalin? Atau ada konspirasi terselubung, misalnya si anak ternyata hasil perkawinan antara si emak dengan sapi peternakan lain? Atau mungkin si bapak terlibat hutang kepada sapi tetangga sebesar empat ikat jerami yang belum terbayar selama tiga tahun? Isu keluarga memang susah untuk diunggap, dan sepertinya hal ini berlaku di kelompok masyarakat hewan.
3.Superioritas Kambing dan Sapi
Tiap kurban, di Indonesia, yang dikurbankan itu mayoritas adalah sapi dan kambing aja. Tapi kan ruang lingkupnya besar, kurban gak harus dua makhluk itu aja kan? Ada unta, yang notabene jika disembelih memiliki pahala yang paling tinggi. Dari ketiga makhluk itu, semuanya mahal. Kenapa ayam gak dijadiin alternatif hewan kurban? Kenapa ikan juga engga? At least dengan harga mereka yang affordable, para kaum bawah gak selalu harus mendapatkan daging kan? Mereka bisa juga ngasih sembelihan berupa ayam atau ikan ini. Mereka dapet pahala dan juga dapet daging juga, dan semua bahagia. Malah yang paling absurd dikeluarga gue, malah menyarankan untuk berkurban kucing. Oke, bener-bener absurd.
Itu dia pemikiran gue yang aneh-aneh yang dari tadi nemplok di otak gue. Sekarang lagi disuruh siap-siap buat ke Pondok Gede, kerumah tante. Doakan gue disana gak ditanggkep dan dikira sapi premium ya. Ntar daging gue dijadiin wagyu lagi..
Adieu~
0 comments:
Post a Comment